Malam ini dengan hujan

Rabu, 07 Agustus 2013 0 komentar

Hujan...
Malam ini kau begitu romantis, dan juga menyayat hati.
Nampaknya kamu telah tahu, setelah tawa itu ada derai yang datang tanpa permisi.
Sepertinya kamu pun tahu,
Kerasnya hati tak bisa kau luluhkan dengan dingin hembus angin.
Hujan,
Apa yang dapat ku perbuat tuk menanggalkan jubah ego yang melekat pada hatinya?
Terlalu kuat, pun intan tak mampu.
Kapan ego itu bisa luruh, bisa lembut seperti talk?
Hujan,
Izinkan derai mengalir malam ini,
Larutkan bersama deraimu,
Sembunyikan bersama nyanyianmu malam ini.
Hujan,,
aku ingin melihat pelangi esok hari.
#29ramadhan dgn dia yg tak paham mengapa derai mengalir tersembunyi, yang tak paham, mengapa diam lebih disukai
Published with Blogger-droid v2.0.10

I Wanna Be

Selasa, 25 Juni 2013 0 komentar





Jika kau bertanya padaku "kau ingin menjadi apa??"
aku kan menjawab, "banyak"
aku ingin menjadi angin. Kau tahu angin bukan? Buat ku itu keren, bisa bergerak kemana saja. Kau hidup dengan angin kan, bayangkan jika tak ada angin, kau takkan bisa bernapas. Angin itu baik, tanpanya takkan ada warna warni bunga yang kau sukai, ia membantu tuk menghasilkan warna baru bunga. Angin itu keren, tanpa angin kapal-kapal nelayan takkan bisa berlayar, angin menuntun kapal tuk melaju di lautan.
Aku ingin menjadi pohon. Pohon itu cantik, warna hijaunya menyejukkan. Cobalah duduk di rindangnya pohon, kesejukan kan kau dapatkan, akarnya yang kuat mampu menahan laju air, bayangkan tanpa pohon, banjirlah selalu.
Aku ingin menjadi burung. Dengan sayap, aku bisa terbang kemana saja aku inginkan, melayang bebas di birunya langit, mengepakkan sayap menuju batas cakrawala. Burung itu penjelajah yang hebat.
Aku ingin menjadi bintang. Bintang itu indah, pemberi keindahan pada gelap langit malam. Ia pun tak bergantung pada yang lain, menghasilkan cahaya sendiri tuk bisa tetap berpijar.
Aku ingin menjadi banyak hal :)

Jika ku bertanya "apa yang kamu suka??"
aku akan menjawab "banyak"
Aku suka laut. Laut itu luas, tenang dan menenangkan, birunya mempesona. Banyak cerita dari laut. Semua air dari daratan pun menuju ke sana, debur ombaknya sungguh menenangkan. Aku ingin hatiku seperti laut, luas, hingga aku bisa lebih bersabar.
Aku suka langit, langit itu juga luas. Luasnya tak terhingga. di atas langit, masih ada langit. Di langit ada bintang, ada pelangi, ada bulan. langit juga ternyata berwarna biru :)
Aku ingin hatiku seperti langit, luas, hingga aku bisa ikhlas dengan apa yang diberi Tuhan padaku.

Aku, langit dan lautan...Indah bukan. :)

Satu cerita dari pagi

Sabtu, 22 Juni 2013 1 komentar



Kau pasti sepakat denganku, dengan kesimpulanku, kalau hari ini dimulai jauh sebelum kau membuka mata dan mengatakan selamat pagi serta mencium keningku, ketika terbangun hari ini.

Kepadamu aku mengalamatkan tulisan ini. Hari ku dimulai dengan senyum paksa yang merekah simpul di bibir ku. Mood ku hari ini lebih buruk dari yang kau perkirakan.
Aku memaki, menghardik, marah.
Aku ingin teriak, berteriak di hadapanmu. Namun, yang kenyataannya respons dari otak ku terhadap keinginan hatiku adalah DIAM. Dan berderai pula airmata ku.

Sebuah tontonan bagus hari ini, menemani kesal ku.
Pergumulan Lebah tanah (Ofu kata orang dari daerah ini) dengan Belalang kayu (entah apa sebenarnya nama belalang itu, aku lupa menanyakannya). Pergulatan mereka membuat ku berhenti sejenak tuk berfikir marah, kesal. Otak ku meyuruh tubuh untuk menikmati pergolakan itu.
Fight fight fight. Si belalang kayu mencoba untuk tetap berjuang, bertahan, melawan beberapa kali. Badannya remuk, sayapnya patah. Namun, ia tetap berjuang untuk hidup.  Lebah tanah itu tak tinggal diam, makin berontak si belalang kayu, makin ganas pula si lebah tanha melakukan penyerangan. Sengatan lebah tanha makin bertubi-tubi, tak beri ampun.

Tak butuh waktu lama, belalang kayu tak mampu melawan lagi. Ia menyerah. Namun, dengan sisa-sisa tenaga miliknya, ia masih ingin tetap berlari. Tangannya perlahan menggapai rerumput di sekitarnya. Pergulatan itu tetap berlangsung.

Alih-alih melumpuhkan belalang kayu hingga tak berkutik. Lebah tanah kedatangan tamu. Pemangsa baru yang sedari tadi memperhatikan pergulatan lebah tanah dari jauh. Tak terelakkan. Tamu yang datang lebih besar darinya. Cicak tanah (sekali lagi, mungkin itu benar namanya) datang mengganggu, mengambil alih santapan lebah tanah, dan menyingkirlah lebah tanah.

Malang sungguh nasib belalang kayu, telah remuk redam badannya oleh pergulatan dengan lebah tanah, kini ia harus berhadapan lagi dengan cicak tanah. Tak mampu lagi ia melarikan diri. Tenaganya telah habis terkuras, badannya tak mampu lagi, sayapnya patah.
Kini belalang tanah pasrah, dua cicak tanah membabi buta. Ia benar-benar pasrah. Hidupnya berakhir terlahap dua cicak tanah.


Sebuah tontonan pagi yang galau. Kau menyimak cerita ku bukan?? Kau menikmatinya?? Namun tidak dengan ku. Aku masih berjibaku dengan kesal ku.
Dan kau pun beranjak, ketika meleh 1 demi 1 bulir yang sedari tadi ingin ku pendam.

Bedebah Kau!!

Pendiam

Sabtu, 23 Maret 2013 0 komentar

Sibuk dengan berjubelnya rutinitas hutan, sampai lupa kalau bulan Maret akan berakhir lagi. Terasa baru saja mnginjakan kaki di tanah merah ini. Dan hampir terlupa tuk menyapa lapak kecil ini.

Hhhmmm, bernegosiasi dengan pemikiran kali ini.
Sepakat kah kamu, kalau orang pendiam itu menakutkan??
Itu hasil pemikiranku, entah menurut pembaca yang mungkin berbaik hati membaca tulisan amburadul ini.

Kenapa ku katakan menakutkan?
Orang pendiam itu susah ditebak, bagaimana tanggapan mereka, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka tidak suka, apa yang mereka benci, apa yang mereka suka, sesuaikah menurut mereka. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan mendapatkan Pernyataan dari mereka yang lebih memilih untuk "diam".

Bagaimana  semisalnya, apa yang kita katakan mereka tak suka, mereka tak tanggap. Bagaimana semisalnya, kita melakukan suatu hal, dan ternyata mereka tak menyukainya, mereka tak sepakat, tak sepaham, mereka tak suka, mereka marah akan hal itu, mereka sedih akan hal itu, mereka benci akn hal itu. Dan mereka tetap mendiamkan. Atau cuma berkata "kaga", "iya", "nda apa-apa", "silahkan". Kita tak tahu sebenarnya apa yang ingin mereka utarakan bukan kalau tanggapan yang kita dapat hanya satu kata. Hhmmm, menakutkan :(

Yah, mungkin kita juga dituntut tuk bisa mengerti bahasa tubuh orag lain, tanpa mereka harus bicara (cuma diam dan berekspresi lewat garakan tubuh). Tapi, bukankah labih baik mengkomunikasikannya??
Sebuah kutipan lagu "Tak selamanya,,,diam itu emas".
Waahhhh, kalau yang namanya "diam" itu bisa menghasilkan emas, semua orang akan memilih tuk diam dong, tidak usah capek-capek kerja, toh dengan diam ternyata menghasilkan juga "emas".
Tapi kenyataan hidup manusia, manusia hidup berkelompok, manusia hidup saling membutuhkan satu sama lain. Dan yang dibutuhkan adalah "komunikasi".

Jadi ingat lagu lawes (",)
"Dalamnya lautan itu dapat ku kira,
Dalamnya hatimu, manalah ku tahu,
Gemuruh di langit itu tanda kan hujan,
Gemuruh hatimu, manalah ku tahu,
Cobalah terbuka, jangan di pendam,
Tak selemanya,,,,diam itu emas"
di populerkan oleh Broery M.

Bicaralah, ungkapkanlah, katakan apa yang ingin dikatakan kepada mereka yang harus mendegar apa yang ingin disampaikan, bukan menyimpannya dan membiarkan orang lain hanyut dengan kesalahpahaman.

#hanya ingin menulis tuk sang pendiam yang mungkin lebih ingin membaca.
Marci bien

Published with Blogger-droid v2.0.10

Followers

Blogger templates

 
A Lady Traveler © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets