Manuskrip Ingin Rupa

Minggu, 16 Februari 2014 1 komentar

by Me

Menguap saja,

Biar kunikmati kicau pagi dalam damai biru,

Agar bisa ku cium wangi siang bersama kuning yang menjadi jingga kemudian,

Biar terdekap dalam hening malam bertabur gemerlap lentera bintang.
Biarkan menguap saja,

Hingga akan tetap diam melihat tak lagi berpendapat.


Seperti udara saja,

Kau Tahu, kau Rasa, tapi Tak Bisa kau Jamah.

...........

Rabu, 12 Februari 2014 0 komentar

Tak fikirkah, lidahmu lebih tajam dari pisau, melukai
Kau buat mengambang tak pasti,
Kau lumat semua janji,
Namun sekatika bak ludah kau jilat kembali,
Tak mengapa tertatih sendiri,
Biar saja mereka memaki,
Dibanding senyum simpul pasti,
Sedang kau memaki dalam hati,
Aku tak sudi kau pecundangi.

from here

( , ) Koma

Rabu, 05 Februari 2014 0 komentar

Begitu panjang kisah dalam hitungan waktu
Kini sedang terhenti pada KOMA dalam paragraf kisah
Entah seperti apa kisah selanjutnya hingga paragraf kisah di titik akhirnya

Hujan, aku sedang tak ingin bercerita,

Beranjak, [Lagi]

Senin, 27 Januari 2014 0 komentar


It’s not my pleace,
I must gone from here.


Tapi kemana?
Kemana harus ku tuju, kakiku tak punya tujuan yang pasti tuk beranjak lagi,
Setelah menetap begitu lama dengan kepercayaan yang terus mencoba dibangun secara tertatih.
Kemana lagi ku pijakkan kaki ini?
Sedang pandang mata hanya sebesar jendela kamar yang kini ku diami.
Sejauh memandang, tak kudapati jalan, dalam jarak pandang yang ku punya hanya ada lapang, tanah yang lapang, tanpa penghuni.
Hanya terdengar suara angin yang berhembus perlahan, terasa membawa berita kematian.
Haruskah aku bertanya pada angin?
Mereka akan menggaggapku gila, jika itu ku lakukan.
Tapi kepada siapa lagi harus aku bertanya?
Aku harus beranjak.

Kaki ingin terus melangkah, menjejak,
Namun, mata yang menerawang ke biru angkasa tak menemukan kemana lagi tuju kaki melangkah, berhenti rasanya,
Kaki masih ingin lekas melangkah, berpijak,
Namun, hati kian membenam dalam hitamnya lumpur peradaban,
Masihkah ada tujuan kaki yang ingin melangkah?
Aku harus beranjak, lagi.
Aku bukan ingin menyerah,
Tidak,
Kali ini lebih dari kemarin,
Kini bersamaku ada satu harapan kecil, ku bawa bersama ke suatu tempat yang ingin ku tuju.
Tapi sampai kini aku masih belum menemukan, kemana harus kucari tempat itu.
Suatu tempat, dimana bisa menerimaku dan harapan kecil yang ku bawa bersamaku.
Kali ini sedikit berbeda, aku harus berjuang sendiri menemukan tempat tujuanku.
Ku pikir kamar dengan jendela yang bisa buatku melihat dunia adalah tempat terbaik bagitu bersama harapan kecilku.
Tapi, ternyata aku harus beranjak, bukan disini.
Bukan tempat ini, bukan pula jendela kecil ini.
Aku tak punya pilihan lagi,
Harus kepada angin kini ku tanyakan tujuan.
Aku harus beranjak, lagi.
Seperti film yang diputar ulang,
Bayangan demi bayangan tergambar kembali,
Aku tak ingin bertarung lagi,
Aku harus beranjak pergi.

Followers

Blogger templates

 
A Lady Traveler © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets